Selamat Datang Di Rahmat Blog Temukan Tips Dan Trik Cinta Dihalaman Rahasia Ini Jangan Lupa Like Atau Comment ya !!! Thanks :)

Anda Ingin UN Ditiadakan? Bacalah Tulisan Ini


Senin, 22 April 2013

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Kekacauan pelaksanaan Ujian Nasional tingkat menengah atas menambah satu lagi alasan bagi para penentang keberadaan UN.
Tetapi, bagai Anda, siapapun Anda dan apapun gelar akademis yang tersandang di bahu Anda, sangat perlu sesekali Anda berpikir dari pihak yang mendukung keberadaan UN.
Di bawah ini alasan-alasan mengapa UN harus ditiadakan saya kutip dari tulisan Elin Driana di Harian Kompas terbitan Sabtu, 20 April 2013. Elin Driana adalah seorang dosen pada program pasca sarjana di Universitas Muhammadiyah Prof Hamka.

Berbiaya besar tanpa manfaat signifikan terhadap peningkatan mutu. Segala jenis ujian entah bentuk apapun tidak ada yang bertujuan untuk meningkatkan mutu, tetapi yang paling mungkin adalah untuk menguji tingkat mutu. Seperti tes kesehatan bukan untuk membuat lebih sehat, tetapi untuk menguji tingkat kesehatan dan berdasarkan hasil tes dapat dicarikan langkah-langkah untuk membuat lebih sehat. Jika hasil tes kesehatan tidak saya gunakan sebagai acuan untuk meningkatkan pola hidup sehat, yang salah bukan tes itu, tetapi sayalah yang salah. Seharusnya begitu pikiran yang benar.  Maka pikiran bahwa UN tidak bermanfaat terhadap peningkatan mutu adalah pikiran yang salah. Hasil UN dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah dalam meningkatkan mutu ke level yang lebih tinggi adalah pikiran yang benar. Kalau itu tidak dilakukan, maka yang salah adalah pemerintah. Kalau soal biaya, jauh lebih besar biaya untuk melaksanakan pemilihan DPR tetapi tanpa manfaat apapun terhadap kemajuan negara, bahkan sebaliknya. Haruskah DPR ditiadakan?.


UN Menimbulkan kecemasan luarbiasa di kalangan siswa dan orangtua. Lebih baik kita bertanya, siswa yang belajar dan diajari selama tiga tahun, kok ya masih cemas menghadapi UN. Apakah karena siswa tersebut memang tidak belajar dengan baik selama tiga tahun?. Perhatikanlah, siswa yang bersekolah di sekolah yang berdisplin tinggi, baik siswa maupun orangtua tidak ada satupun yang mencemaskan UN, bahkan sebaliknya mereka lebih memikirkan Ujian Sekolah. pak Jusuf Kalla pernah mengatakan bahwa tingkat kesulitan soal UN tingkat sekolah menengah atas di Indonesia setara dengan tingkat kesulitan ujian di sekolah menengah pertama di Malaisya, tetapi hal itupun di sini masih menakutkan, lalu mau jadi apa bangsa ini?. Demikian galaunya bapak Jusuf Kalla tentang hal ini.


Sebenarnya apa yang dicemaskan siswa, cemas hanya terhadap ujian nasional atau cemas terhadap semua yang namanya ujian?. Jika kecemasan siswa hanya terhadap UN tetapi tidak cemas terhadap ujian lainnya, ini sangat aneh dan sangat mencurigakan, megapa harus berbeda antara UN dan ujian lainnya. Tetapi jika kecemasan siswa adalah terhadap semua yang bernama ujian, maka bangsa ini telah dan akan hancur lebur tanpa harapan, sebab generasi mudanya ternyata memble dan loyo, generasi yang tidak berani menghadapi ujian sekecil apapun. Itu berarti, kita harus membuat sekolah yang didalamnya tidak ada ujian apapun. Masuk tanpa tes, naik kelas tanpa ujian, lulus tanpa ujian. Selamat tinggal negaraku.


UN menyebabkan siswa belajar praktis, karena hanya mengujikan soal-soal pilihan ganda. Mungkin benar, sebab pada soal pilihan ganda siswa hanya perlu memilih salah satu jawaban yang sudah disediakan, artinya siswa dibiasakan untuk memilih, tetapi tidak dibiasakan untuk mencari. Bentuk soal yang memaksa siswa mencari jawaban adalah bentuk essay tes, maka seharusnya yang diusulkan bukan meniadakan UN, tetapi mengganti bentuk soal dari soal bentuk pilihan ganda menjadi soal bentuk essay tes, begitulah kalau kita berpikir jujur untuk kemajuan pendidikan. Tetapi kalau untuk soal bentuk pilihan ganda saja siswa sudah cemas, maka mungkin siswa akan mati atau pingsan kalau bentuk soal UN diubah menjadi essay test. Bukankah begitu?Tidak perlu gelar doktor atau professor untuk memahami bahwa tidak ada satu jenis tes dalam bentuk apapun yang dapat menelusuri semua kemampuan dan bakat di dalam diri siswa. Bahkan orangtua yang melahirkan dan siswa itu sendiripun tidak dapat mengetahui seutuhnya segala bakat yang ada di dalam dirinya.


UN menyebabkan dampak negatip berupa kesenjangan prestasi akademis berdasarkan status sosial ekonomi keluarga. Ini kalimat ungkapan yang benar-benar terbalik. Pernyataan yang paling logis adalah kesenjangan ekonomi menyebabkan kesenjangan prestasi akademis saat siswa mengikuti UN. Siswa yang tingkat ekonominya baik memiliki kemampuan untuk mendatangkan guru privat, atau membayar untuk mengikuti bimbingan belajar, memiliki asupan gizi yang lebih baik, mampu menyediakan fasilitas belajar yang memadai, sementara siswa yang kemampuan ekonominya kurang tidak mampu menyediakan itu semua. Maka yang harus diperbaiki adalah kesenjangan ekonomi, bukan dengan meniadakan UN. Meniadakan UN untuk membuat pemerataan prestasi akademis adalah sangat tak masuk akal.


Justru dengan adanya UN kita menjadi tersadar akan adanya kesenjangan prestasi akademik, adanya kesenjangan fasilitas belajar, dan adanya kesenjangan kesempatan belajar. Meniadakan UN sama artinya menutupi semua kesenjangan ini sehingga tidak terlihat, agar tampak seolah-olah pendidikan kita sudah merata, itu namanya menyembunyikan borok, bisul, panu, dan kurap.


UN menyebabkan meningkatnya rasio putus sekolah bagi siswa yang tidak mampu. Kurang jelas apa yang dimaksud dengan siswa yang tidak mampu. Kalau yang dimaksud adalah siswa yang tidak mampu mengikuti pelajaran sekolah, sangat wajar jika siswa itu putus sekolah. Dan jangan lupa, putus sekolah tidak berarti masa depan anak itu hancur lebur. Kalau yang dimaksud adalah siswa tidak mampu secara ekonomi membiayai sekolah padahal siswa itu memiliki kecerdasanyang baik, itu tidak berkaitan dengan UN, itu tugas pemerintah.


UN menyebabkan fokus belajar siswa hanya untuk latihan-latihan soal, aspek kreativitas menjadi terpinggirkan. Pengalaman saya mengajarkan bahwa tidak ada gunanya melatih siswa segala jenis soal jika siswa tidak memahami konsep dasar yang berkaitan dengan soal tersebut. Siswa yang memahami konsep dasar pasti mampu menghadapi soal yang mencakup konsep tersebut. Tetapi karena waktu ujian terbatas, maka selain memahami siswa juga perlu terampil. Latihan soal-soal hanya dapat meningkatkan keterampilan menggunakan apa yang dipahaminya. Ibarat kalau Anda mempelajari teori tentang bertinju, Anda hafal dan memahami segala jenis pukulan, mengerti cara menghindar, tetap saja Anda harus menghabiskan waktu sekian lama berlatih untuk menjadi terampil menggunakan segala apa yang Anda ketahui tentang tinju, dan keterampilan itulah yang anda tunjukkan di atas ring.


UN menyebabkan penyempitan kurikulum, karena siswa terfokus hanya kepada pelajaran yang diujikan saat UN. Sekarang coba pikirkan kalau UN ditiadakan, anda mengharapkan siswa menjadi terfokus pada semua mata pelajaran?, tidak. Tetapi yang terjadi adalah siswa tidak memiliki fokus apapun. Kalau penyempitan kurikulum ini yang menjadi kekhawatiran, maka usul paling logis dan masuk akal adalah agar semua mata pelajaran yang dipelajari di sekolah juga diujikan di UN. Masalahnya adalah, jika hanya dengan beberapa mata pelajaran UN sudah membuat cemas, bagaimana jika semua mata pelajaran diujikan di UN, semaput dah.


UN menyebabkan terjadinya berbagai modus kecurangan. Inilah khas bangsa Indonesia, buruk rupa cermin dibelah. Kecurangan di UN itu memang dilakukan oleh hampir semua yang terlibat. Siswa dan orangtua mencari bocoran, guru dan aparat diknas sebagai penanggung jawab pelaksanaan UN menjual bocoran, menjual proyek, dan lain-lain. Lalu siapa atau apa yang salah?. Jika di perpajakan banyak terjadi kecurangan untuk mengakali pajak, haruskah kantor-kantor pajak kita tutup?, tidakkah lebih baik orang yang melakukan perbuatan curang itu yang kita binasakan?. Hal ini sama seperti pendapat beberapa ahli, bahwa UN itu menjadi affirmasi sifat koruptif. Mereka yang berpendapat seperti itu menutup mata terhadap fakta bahwa jauh sebelum UN diadakan korupsi di negeri ini sudah menjamur atau bahkan membudaya. Saat Muh Hatta menyebutkan bahwa “korupsi di negeri ini sudah menjadi budaya”, saat itu belum ada UN.
Dan lagi pula, dimana di pelosok negeri ini yang bersih dari kecurangan?. Bagian mana di negeri ini yang tidak menjadi markas besar koruptor?.

Jika bantuan sosial dikorupsi, tidak baik jika Anda mengusulkan agar bantuan sosial ditiadakan, itu dosa besar. Akan lebih baik jika Anda berteriak, tangkap koruptor itu, adili, potong kemaluannya.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Share this article

Comments
0 Comments

0 komentar :

email

Dapatkan artikel baru kami lewat email !